banner 728x250

Isi Rumah yang Sepi dan Tangis yang Tak Terdengar: Di Balik Lambannya Keadilan Kasus Kecelakaan Maut Sumsel

banner 120x600
banner 468x60

​SUMATERA SELATAN — Di balik tumpukan berkas perkara P-19 yang kini tertahan dan bolak-balik dalam proses hukum, ada ruang-ruang tamu yang kini mendadak hening. Ada anak-anak balita yang masih kerap menanti langkah kaki ayahnya di depan pintu, tanpa pernah tahu bahwa sang ayah tak akan pernah pulang lagi.

​Tragedi kecelakaan maut di Sumatera Selatan tidak hanya menghentikan detak jantung para korban, tetapi juga merenggut masa depan keluarga yang ditinggalkan. Ketika proses hukum terkesan berjalan lambat dan dipenuhi teka-teki administrasi, luka yang dirasakan para ahli waris justru makin berdarah.

banner 325x300

​Duka mendalam inilah yang memantik ketukan nurani dari Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 (LAKI-P45) Sumatera Selatan. Ketua LAKI-P45, Ahlul Fajri, menyampaikan jeritan hati keluarga korban yang seolah terabaikan di balik rumitnya pasal dan penundaan berkas perkara.

​”Ada apa dengan proses P-19 ini? Kami meminta Kejaksaan menjelaskan kepada masyarakat secara terbuka. Jangan sampai proses hukum berjalan begitu lambat, sementara hilangnya nyawa manusia seakan dianggap sebagai sesuatu yang biasa,” tutur Ahlul Fajri dengan nada getir.

​Bagi Kejaksaan dan penyidik, berkas itu mungkin hanyalah lembaran kertas. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, berkas itu memuat penderitaan nyata:

  • Anak-anak yang Kehilangan Penopang Hidup: Bocah-bocah kecil yang terpaksa putus sekolah atau kehilangan masa depan karena sang ayah—tulang punggung utama—telah tiada.
  • Orang Tua yang Meratapi Kepergian Anak: Para ibu dan ayah yang harus mengubur mimpi dan harapan masa depan buah hati mereka lebih cepat dari yang dibayangkan.
  • Pasangan yang Memikul Beban Sendirian: Janda dan duda yang kini harus berjuang sendirian melanjutkan hidup di tengah trauma kecelakaan maut yang merenggut nyawa belahan jiwa mereka.

​LAKI-P45 menegaskan bahwa keadilan tidak boleh tumpul hanya karena perkara ini bertabrakan dengan kepentingan atau pengaruh perusahaan besar. Nyawa rakyat kecil yang melayang tidak boleh dinilai lebih murah daripada status sosial dan kekuatan ekonomi pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

​Menutup pernyataannya, Ahlul Fajri menyampaikan pesan menyayat hati yang ditujukan langsung kepada nurani para penegak hukum yang menangani kasus ini.

​”Saya mengetuk hati Kejaksaan. Tataplah wajah keluarga korban dan rasakan penderitaan mereka. Mereka bukan sekadar angka dalam sebuah perkara. Mereka adalah manusia yang kehilangan ayah, ibu, anak, suami, istri, dan orang yang mereka cintai. Jangan biarkan hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan pemilik kekuatan,” pungkasnya penuh harap.

Admin : Andika Saputra

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *