banner 728x250

Nyawa Warga Menanti Ajal di Jembatan Lapuk Lubuk Pauh: Anggaran Rp500 Juta Menguap, Penderitaan Rakyat Tak Bertepi

banner 120x600
banner 468x60

 

​MUSI RAWAS — Di atas derasnya arus sungai Desa Lubuk Pauh, Kecamatan BTS Ulu, bertaruh nyawa kini menjadi rutinitas harian yang memilukan bagi warga setempat. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan mereka kini berdiri bak jerat maut: kayu-kayu pelapisnya telah lapuk dan keropos, pagar pengamalnya jebol, dan fondasinya meliuk ringkih menanti waktu untuk runtuh membawa korban jiwa.

banner 325x300

​Tragedi kemanusiaan ini terasa kian menyayat hati di tengah kenyataan pahit yang tersembunyi di balik layar administrasi. Di atas kertas dokumen pemerintah, penderitaan warga ini seharusnya telah usai. Sistem LPSE Kabupaten Musi Rawas dengan dingin mencatat bahwa paket “Rehabilitasi Jembatan Gantung Desa Lubuk Pauh” beranggaran APBD Rp500 juta telah “Selesai”. Bahkan, dokumen penyerahan akhir (FHO) dan jaminan pemeliharaan telah ditandatangani sejak Februari 2025.

​Namun, fakta di lapangan menyajikan kepiluan yang mengerikan:

​Jerat Maut Anak Sekolah: Setiap pagi, anak-anak kecil dengan seragam kusam harus melangkahkan kaki kecil mereka gemetar, meniti papan-papan lapuk berlubang demi menuntut ilmu. Satu pijakan yang salah berarti nyawa melayang ke dasar sungai.

​Uang Rakyat yang Melayang: Anggaran ratusan juta rupiah yang bersumber dari uang rakyat menguap tanpa bekas yang nyata, menyisakan jembatan tua yang rapuh dan tak berdaya menopang beban hidup warga.

​Keterisolasian yang Menyiksa: Petani yang hendak menjual hasil panen dan warga sakit yang membutuhkan pertolongan medis darurat harus mempertaruhkan keselamatan mereka di atas konstruksi yang siap ambruk kapan saja.


​”Kami seperti dibiarkan mati perlahan. Di internet katanya jembatan ini sudah diperbaiki dan selesai, tapi mana? Papan-papannya masih busuk, pagar roboh. Apakah menunggu ada anak kami yang jatuh dan hanyut tenggelam baru mereka bergerak?” bisik seorang warga dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah.

​Di balik tumpukan dokumen resmi yang tertata rapi dan stempel basah tanda proyek selesai, ada jerit ketakutan warga Lubuk Pauh yang terabaikan. Masyarakat kini tak hanya menuntut kejelasan ke mana uang setengah miliar rupiah itu mengalir, tetapi juga memohon belas kasihan sebelum jembatan lapuk tersebut benar-benar menelan korban jiwa.

Admin : Andika Saputra

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *