MUSI RAWAS, INFORMASIJITU.COM – Suasana di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Simpang Semambang mendadak mencekam dan nyaris ricuh. Praktik pengisian BBM bersubsidi menggunakan jeriken yang disinyalir menabrak aturan resmi memicu amarah warga serta pengendara yang harus berpanas-panasan dalam antrean panjang hingga mengular ke pinggir jalan poros.
Berdasarkan pemantauan langsung di lokasi, tampak pemandangan memprihatinkan. Puluhan kendaraan yang mayoritas dalam kondisi tidak layak jalan berjejer bersama deretan jeriken ukuran besar di area SPBU. Di tengah teriknya sengatan matahari, ketegangan pecah ketika antrean konsumen resmi bergesekan dengan para pengisi jeriken. Percekcokan adu mulut tak terhindarkan dan hampir berujung pada bentrok fisik sebelum akhirnya diredam.
Kejadian ini menyulut kekesalan mendalam dari para pengantri yang merasa haknya dirampas oleh praktik pengisian jeriken secara bebas. Tak hanya itu, beberapa pengantri BBM bersubsidi mengungkap adanya indikasi praktik tidak sehat dalam aktivitas pengisian jeriken tersebut.
”Kegiatan seperti ini jelas salah dan sangat merugikan kami yang antre resmi. Bahkan di lapangan, ada istilah atau cetusan ‘ngemek’ (potongan/biaya tambahan) untuk setiap jeriken yang diisi. Ini sudah tidak benar,” cetus salah seorang pengantri dengan nada geram.
Sementara itu, sosok bernama Hartopo yang sebelumnya mengaku telah lama bertindak dan “menetap” di SPBU Simpang Semambang sebagai pengantri senior, saat dikonfirmasi oleh awak media mengenai aturan baku dan Standard Operating Procedure (SOP) pengisian BBM bersubsidi di SPBU tersebut, memberikan jawaban yang terkesan berbelit-belit dan tidak lugas.
Saat dicecar mengenai insiden ketegangan dan adu mulut yang baru saja terjadi antara pengisi jeriken dan konsumen umum, Hartopo terkesan mengelak dan berdalih belum mengetahui pasti identitas serta penyebab utama keributan tersebut.
”Saya belum tahu siapa yang cekcok dan apa masalahnya. Daripada saya asal jawab sekarang nanti jadi salah, besok mau saya temui dulu orang yang mengisi dan yang membawa jeriken itu. Mau saya tanya apa kemauan mereka dan apa pokok permasalahannya, biar besok bisa saya jelaskan secara pasti,” ujar Hartopo saat dikonfirmasi media di lokasi.
Praktik pengisian BBM bersubsidi menggunakan jeriken tanpa pengawasan ketat serta dugaan adanya pungutan per jeriken ini makin mempertegas lemahnya penerapakan SOP di SPBU Simpang Semambang. Masyarakat mendesak pihak Pertamina dan Aparat Penegak Hukum (APH) turun tangan melakukan penertiban secara tegas agar alokasi BBM bersubsidi tepat sasaran dan tidak memicu konflik sosial di tengah masyarakat.
Admin : Andika Saputra


















