MUSI RAWAS – Sebuah pemandangan ganjil nan menyayat hati para pengendara terjadi di SPBU Desa Mataram, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas. Sepanjang bulan Januari 2026, stok bahan bakar jenis Pertalite seolah menjadi barang “gaib”. Masyarakat yang haus akan BBM subsidi ini terpaksa menelan pil pahit lantaran nozzle Pertalite selalu dalam kondisi kosong, padahal pasokan disebut rutin datang setiap hari.
Drama Tengah Malam dan Keluhan Rakyat
Kelangkaan ini memicu tanda tanya besar di benak publik. Bagaimana mungkin, di saat SPBU lain di wilayah Musi Rawas dan Kota Lubuklinggau tampak lancar jaya, SPBU Mataram justru macet total? Masyarakat mulai merasa ada yang tidak beres dengan manajemen distribusi di titik tersebut.
Seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya melontarkan kritik pedas. Menurutnya, alasan pasokan datang tengah malam tidak masuk akal jika dijadikan alasan stok langsung habis di pagi hari.
Ini jelas aneh! Oke, katanya datang jam 11 atau 12 malam. Tapi kok paginya sudah menghilang? Siapa yang beli ber-ton-ton Pertalite dalam hitungan jam di tengah malam buta? Kami menduga ada rekayasa di balik layar,” cetusnya dengan nada geram.
Pembelaan Pihak SPBU: “Kami Tak Punya Tameng”
Menyikapi polemik ini, Topo selaku Pimpinan SPBU setempat angkat bicara. Melalui pesan singkat WhatsApp pada Jumat malam (30/01/2026), ia mengungkapkan alasan teknis yang cukup mengejutkan. Menurutnya, sumber pasokan SPBU-nya berbeda dengan SPBU lain. Jika yang lain disuplai dari Depo Lubuklinggau, kelompok SPBU-nya (Tugumulyo, Simpang Semambang, dan Megang Sakti) harus menunggu kiriman dari Depo Kabupaten Lahat.
Namun, yang menarik perhatian adalah pernyataan Topo yang mengibaratkan pengelolaan SPBU-nya seperti “gerombolan kaki lima” yang bergerak tanpa perlindungan.
“Punya kita ni cuman gerombolan kaki lima pengurusnya pak, istilahnya bejalan asal dan gak punya tameng pak,” tulis Topo dalam pesan singkatnya.
Indikasi Penyelewengan?
Meski pihak SPBU berdalih soal kendala distribusi dari Lahat, publik tetap mendesak pihak terkait—baik Pertamina maupun aparat penegak hukum—untuk turun tangan. Rakyat mencium aroma tidak sedap; apakah Pertalite tersebut benar-benar habis terjual ke konsumen umum, atau justru “mengalir” ke tangan oknum penimbun atau pengepul jeriken di saat warga sedang terlelap?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin gejolak sosial akan meledak di Tugumulyo. Masyarakat hanya butuh satu hal: transparansi dan hak mereka atas BBM subsidi dikembalikan.
Suber :MUSIRAWAS EKSPRES.COM
Admin : Andika Saputra


















